oleh: trisoko s

Ada2 pondasi yang dasar dari CSR, yaitu Charity Prinsiple dan stewardship Prinsiple.

Charity principle adalah kegiatan yang dilakukan oleh perusahaan untuk memberikan bantuan sukarela kepada seseorang atau kelompok yang membutuhkan. Kegiatan ini biasanya dalam bentuk kegiatan kedermawanan, sebagai contoh dengan mendirikan suatu yayasan untuk mengatasi masalah tertentu, bisa juga melakukan pendampingan maupun kerjasama pada kelompok tertentu yang membutuhkan, contoh kelompok miskin.

Stewardship Prinsiple adalah tindakan perusahaan untuk mempertimbangkan kepentingan setiap pihak yang dipengaruhi oleh keputusan maupun kebijakan perusahaan. Hal ini dilakukan karena ada kesadaran bahwa ada ketergantungan antara perusahaan dengan masyarakat, kegiatan ini dilakukan dengan pendekatan stakeholder.sehingga mampu menyeimbangkan kepentingan dan kebutuhan setiap kelompok yang bermacam-macam di masyarakat.[1]

Berdasarkan dua pondasi dasar CSR tersebut, pelaksanaan CSR yang dilakukan oleh Perusahaan. memiliki banyak bentuk, tetapi dari keseluruhan bentuk, hanya  ada dua pelaksanaan  CSR yang dominan, yaitu meletakkan CSR sebagai kegiatan yang menyatu dengan inti bisnis (core bisnis / inline) dan melakukan CSR diluar dari inti bisnis atau yang sering disebut charity , karikatif , philanthropy dan lain-lain .CSR yang diletakkan dalam inti bisnis, merupakan suatu kumpulan kebijakan, praktek dan program yang secara komperhensif terintegrasi dalam operasi sehari-hari dengan demikian  dampak sosial dan lingkungan ikut dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan. Dalam hal ini paling tepat, CSR dijadikan sebagai manajemen resiko, manajemen resiko ini dapat dilakukan apabila perusahan mampu mendapatkan informasi yang akurat terkait kepentingan stakeholder dan terhindar salah analisis atas kepentingan stakeholders. untuk itu  diperlukan analisa maupun pendekatan dengan para stakeholder[2]agar manajemen perusahaan mengetahui mana saja stakeholder yang relevan, setelah itu dilakukan pendekatan yang saling menguntungkan agar stakeholder tidak menggunakan kekuatannya untuk menghentikan kegiatan perusahaan, seperti kekuatan votting yang dimiliki oleh pemegang saham, kekuatan ekonomi yang dimiliki oleh konsumen, retailer dan supplier, kekuatan politik yang dimiliki oleh pemerintah dan kekuatan hukum yang dimiliki oleh semua stakeholder termasuk juga aktifis lingkungan dan social. Pertimbangan dan kebijakan yang dibuat berdasarkan analisa dan pendekatan stakeholder yang tepat akan memuaskan stakeholders, seperti:  Pekerja mampu dengan mantap terus bekerja di perusahaan, menerima upah yang adil, bekerja dalam lingkungan yang aman dan nyaman. Stokeholder/pemegang saham menerima deviden yang memuaskan. Konsumen menerima pertukaran yang adil dengan memperoleh produk yang bernilai sesuai uang yang dikeluarkan. Supplier menerima pesanan yang rutin atas produknya, dan dibayar tepat waktu sesuai suplai yang telah dikirim. Komunitas sekitar diperkerjakan dan Perseroan melindungi lingkungan dan area sekitar operasi kerja, NGO dapat melakukan monitoring terhadap tindakan dan kebijakan yang dilakuan perusahaan untuk menjamin agar sesuai dengan hukum dan standar etika. Pemerintah mendapat dukungan pembangunan ekonomi yang berkelanjutan dan peningkatan pendapatan melaui pajak dan lain-lain.[3] Pelaksanaan CSR dalam bentuk ini akan menguntungkan semua stakeholder dan kentungan yang diperoleh oleh stakeholder. akan berdampak positif bagi kinerja Perusahaan, karena minimnya resiko yang ada dikemudian hari, Dengan walaupun ada celah hukum/standar hukum yang rendah, seharusnya suatu Perusahaan tidak memanfaatkan celah tersebut karena hanya akan merugikan stakeholder sebagai contoh:

  • Walaupun tidak ada kewajiban untuk menyediakan tempat penitipan anak, Perusahaan mendirikan tempat penitipan anak agar pekerja dapat bekerja dengan tenang dan nyaman, sehingga diwaktu istirahat, pekerja dapat bertemu dengan anak
  • Walau perusahaan mampu untuk menebang pohon diluar wilayah HPH dengan cara melakukan suap dan memanfaatkan lemahnya aparat penegak hukum, perusahaan tidak akan melakukannya, karena dengan melakukan hal tersebut akan menimbulkan resiko yang besar dikemudiah hari.
  • Perusahan menggunakan pensil dalam seminar-seminar maupun kegiatan menulis dalam perusahaan, bukannya bolpein yang menghasilkan sampah plastik.[4]
  • Peraturan tenaga kerja memperbolehkan adanya sistem kontrak, sistem kontrak hanya sering digunakan perusahaan untuk mendapat tenaga kerja yang murah, sebagai bentuk eksplotasi yang legal  karena dengan upah yang relatif lebih rendah, Perusahaan mendapatkan pekerja-perkerja yang bekerja lebih keras dari pekerja-pekerja tetap, karena hal ini perusahaan tidak memanfaatkan sistem kontrak, tetapi menggunakannya secara bijaksana, seperti membayar pekerja kontrak dengan layak dan tidak mempersulit pengangkatan pegawai tetap.

Pada prakteknya, untuk mengakomondasi dan memuaskan Stakeholder, Perseroan melakukan dialog (engagement) dengan pihak stakeholder, melalui stakeholder initiative/involvement dan memberikan pelaporan.[5] Selain itu Perseroan juga mengadopsi/menggunakan standar-standar baik yang berdasarkan Inisiator Seperti dari bisnis, yaitu ( FSC), dari  NGO ( fair trade, IfOAM) dari Multistakeholder Forum ( AA 1000, RSPO ) dari  Badan Multilateral (OECD guidlines), dari UN ( UN Global Compact ) Maupun  Berdasarkan Issue  Seperti, SA 8000 ( perburuhan ) ISO 14000 ( Lingkungan), Berdasarkan Sektor Industri: Equator principles (Keuangan/Perbankan) FSC ( Hutan/kayu / mebel) dan lain-lain.

Pelaksanaan CSR, diluar inti bisnis memiliki banyak bentuk dan biasanya dilakukan dengan melakukan kegiatan amal / charity, tetapi dalam melakukan kegiatan amal ada macam jenisnya yaitu:

  • Corporate philanthropy: pemberian sumbangan sebagai kegiatan amal (charity) seringkali dalam bentuk hibah tunai, donasi dan/atau dalam bentuk barang, inisiatif ini merupakan inisiatif  paling tradisional diantara inisiatif-inisiatif lain[6]dan di era 1980 an konsep ini berkembang kearah pemberdayaan masyarakat (Community development) semisal pengembangan kerjasama, memberikan ketrampilan, pembukaan akses pasar dan sebagainya [7]
  • Cause promotions: Pengalokasian dana atau bantuan dalam bentuk barang dan sumber daya lain oleh perusahaan untuk meningkatkan kesadaran dan perhatian tentang masalah sosial atau dalam rangka rekruitmen sukarelawan. Sebagai contoh the body shop mempromosikan larangan penggunaan hewan untuk uji coba kosmetik.
  • Cause-related marketing: komitmen perusahaan untuk mendonasikan sejumlah presentase tertentu dari pendapatan untuk hal tertentu yang terkait dengan penjualan produk
  • Corporate social marketing yaitu upaya perusahaan memberi dukungan pada pembangunan dan/atau pelaksanaan kegiatan yang ditujukan untuk mengubah sikap dan perilaku dalam rangka memperbaiki kesehatan masyarakat, pelestarian lingkungan dan lain-lain.
  • Community volunteering, dukungan dan dorongan perusahaan pada para karyawan, mitra pemasaran dan / atau anggota franchise untuk menyediakan dan mengabdikan waktu dan tenaga mereka untuk membantu kegiatan organisasi tertentu.
  • Social Responsible business practice yaitu pengadopsian dan pelaksanaan praktek-praktek bisnis dan investasi yang memberikan dukungan pada permasalahan sosial untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan untuk melindungi lingkungan. Perusahaan dapat melakukannya sendiri atau bermitra dengan organisasi lain seperti yang dilakukan oleh starbuck untuk mendukung para petani kopi meminimalkan dampak lingkungan yang berasal dari pola kerja yang mereka lakukan.[8]

[1] Anne T, Lawrence, James Weber and James E, Business and society: stakeholder, Ethics, Public Policy (New York: Mc Graw –Hill Companies, Inc, 2005), hlm 48

[2] Anonim , menuju praktek CSR , makalah disampaikan oleh Aris Bintoro dalam seminar” kewajiban bagi bisnis mempraktekan CSR pasca Undang-Undang PT” yang diadakan oleh  BWI,  Hotel Sahid raya Solo , 29 September 2007

[3] Lihat Anne T, Lawrence, James Weber and James E, Business and society: stakeholder, Ethics, Public Policy (New York: Mc Graw –Hill Companies, Inc, 2005), hlm 11-13

[4] Eka budianta , Humanisme bisnis , (Jakarta:Pusapa Swara,2003), hlm 24

[5] Savio Wermasubun, Standar Audit Sosial: Instrumen akuntabilitas Bisnis, CSReview Edisi II / Tahun I / Februari 2006.

[6] Philip kotler dan nancy lee, Corporate social responsibility “ doing the most good for your company and your cause”:New jersey:john wiley & Sons, Inc : 2005) hlm 23-24

[7] Yusuf wibisono , Membedah konsep dan Aplikasi CSR,(Gresik : fascho Publising , 2007) , hlm 6

[8] Loc.cit

One response »

  1. UNDERGROUND Paper mengatakan:

    Artikelnya bagusss…
    Sekedar ingin berbagi aja, barangkali bisa menambah sedikit referensi mengenai tanggungjawab sosial perusahaan (CSR)
    Klik –> Makalah CSR The Body Shop

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s